Frozen Shoulder Syndrome adalah penyakit yang mengenai bagian bahu seseorang sehingga tangan yang terkena terasa sakit saat digerakkan dan gerakkan yang dapat dilakukan pun terbatas seperti ada sesuatu yang membekukan sendi bahu.
Penyakit ini bisa mengenai siapa saja baik laki-laki maupun perempuan. penyebab utama dari penyakit ini biasanya akibat angin dingin. angin dari AC atau angin dari kipas angin yang secara langsung mengenai bagian bahu dalam waktu yang agak lama merupakan salah satu penyebab utama dari penyakit ini. selain angin, trauma pada bahu juga merupakan penyebab yang cukup sering.
penanganan dari frozen shoulder yang paling utama adalah menghindari faktor penyebabnya setelah itu perawatannya bisa bermacam-macam, salah satunya yang memiliki efektivitas yang tinggi adalah akupunktur. dalam waktu beberapa menit saja akupunktur dapat mengurangi rasa sakit dan memperluas gerakan yang dapat dilakukan. penusukan jarum pada titik akupunktur ST 38 , LI 15, TE 14, SI 9, GB 21, GB 41 kontralateral dari sisi yang sakit dapat secara cepat mengatasi penyakit ini.
Metode perawatan lain seperti pemberian panas berupa sinar infra red juga cukup efektif pada kasus yang baru.
Kesehatan Gigi dan Kesehatan Tubuh
Informasi yang disediakan pada blog ini mengenai kesehatan gigi dan mulut serta kesehatan tubuh secara umum.
Kamis, 07 April 2011
Jumat, 01 April 2011
Mencegah Lubang Gigi
Kebersihan mulut
Kebersihan perorangan terdiri dari pembersihan gigi yang baik. Kebersihan mulut yang baik diperlukan untuk meminimalisir agen penyebab penyakit mulut dan membuang plak gigi. Salah satu cara untuk menjaga kebersihan mulut adalah dengan cara menyikat gigi. Masih banyak orang terutama anak-anak yang tidak dapat menyikat gigi secara baik dan benar. Oleh karena itu diperlukan pendidikan kesehatan gigi, khususnya dilakukan pada anak-anak dengan tujuan untuk memberikan instruksi dan memotivasi mereka untuk membersihkan gigi dari debris dan plak dari seluruh permukaan gigi.
Flossing
Menggunakan benang gigi untuk membersihkan permukaan gigi yang tidak terjangkau oleh sikat gigi. Idealnya flossing dan menyikat gigi dilakukan sebagai satu kesatuan dalam hal membersihkan gigi, namun karena penggunaannya cukup sulit, flossing diajarkan umumnya pada anak yang mudah menggunakan sikat gigi dengan teknik yang baik dan efisien.
Teknik Flossing
1.Potong benang gigi sekitar 30-40 cm dan perlahan gulung salah satu ujungnya pada jari tengah.
2.ujung jari telunjuk atau jempol mengontrol benang. Panjang yang digunakan tidak lebih dari 2 cm untuk memberikan kontrol yang maksimal.
3.lalui titik kontak gigi dengan cara menggerakkan benang kearah depan belakang sampai benang perlahan melewati titik kontak.
4.gerakkan benang secara perlahan arah atas bawah dan depan belakang pada setiap permukaan samping gigi. Benang digerakkan sampai sedikit dibawah batas gusi.
5.Setelah flossing, berkumurlah untuk membersihkan plak dan debris yang sudah lepas dari daerah antar gigi.
Pengaturan makanan
Untuk kesehatan gigi, pengaturan konsumsi gula penting diperhatikan. Gula yang tersisa pada mulut dapat memproduksi asam oleh bakteri. Masalah dari pengaturan makanan adalah banyak orang sudah memiliki kebiasaan untuk memakan makanan manis dan dianggap sebagai perilaku yang normal. Untuk mengubah kebiasaan ini diperlukan perubahan fundamental pada sikap. Maka agar tingkat keberhasilan mengatur pola diet pada anak, maka metode yang digunakan tidak hanya untuk memberikan informasi melainkan juga membujuk anak dan orang tuanya untuk bertindak berdasarkan informasi yang diberikan.
Dalam memberikan rekomendasi, petunjuk berikut disarankan untuk dilakukan:
1.Pertama, pujilah poin-poin yang baik dalam pola diet anak.
2.Paparkan bahayanya konsumsi snek diantara waktu makan dan beri komentar tentang makanan kariogenik yang dikonsumsi diantara waktu makan.
3.Anjurkan mengganti makanan kariogenik dengan non kariogenik
4.Informasikan konsumsi makanan yang bergizi tinggi untuk mengurangi keinginan untuk ngemil
5.Doronglah anak untuk menyikat gigi setelah makan
6.Paparkan bahwa makanan yang mengontrol karies gigi juga mengontrol berat badan
Kebersihan perorangan terdiri dari pembersihan gigi yang baik. Kebersihan mulut yang baik diperlukan untuk meminimalisir agen penyebab penyakit mulut dan membuang plak gigi. Salah satu cara untuk menjaga kebersihan mulut adalah dengan cara menyikat gigi. Masih banyak orang terutama anak-anak yang tidak dapat menyikat gigi secara baik dan benar. Oleh karena itu diperlukan pendidikan kesehatan gigi, khususnya dilakukan pada anak-anak dengan tujuan untuk memberikan instruksi dan memotivasi mereka untuk membersihkan gigi dari debris dan plak dari seluruh permukaan gigi.
Flossing
Menggunakan benang gigi untuk membersihkan permukaan gigi yang tidak terjangkau oleh sikat gigi. Idealnya flossing dan menyikat gigi dilakukan sebagai satu kesatuan dalam hal membersihkan gigi, namun karena penggunaannya cukup sulit, flossing diajarkan umumnya pada anak yang mudah menggunakan sikat gigi dengan teknik yang baik dan efisien.
Teknik Flossing
1.Potong benang gigi sekitar 30-40 cm dan perlahan gulung salah satu ujungnya pada jari tengah.
2.ujung jari telunjuk atau jempol mengontrol benang. Panjang yang digunakan tidak lebih dari 2 cm untuk memberikan kontrol yang maksimal.
3.lalui titik kontak gigi dengan cara menggerakkan benang kearah depan belakang sampai benang perlahan melewati titik kontak.
4.gerakkan benang secara perlahan arah atas bawah dan depan belakang pada setiap permukaan samping gigi. Benang digerakkan sampai sedikit dibawah batas gusi.
5.Setelah flossing, berkumurlah untuk membersihkan plak dan debris yang sudah lepas dari daerah antar gigi.
Pengaturan makanan
Untuk kesehatan gigi, pengaturan konsumsi gula penting diperhatikan. Gula yang tersisa pada mulut dapat memproduksi asam oleh bakteri. Masalah dari pengaturan makanan adalah banyak orang sudah memiliki kebiasaan untuk memakan makanan manis dan dianggap sebagai perilaku yang normal. Untuk mengubah kebiasaan ini diperlukan perubahan fundamental pada sikap. Maka agar tingkat keberhasilan mengatur pola diet pada anak, maka metode yang digunakan tidak hanya untuk memberikan informasi melainkan juga membujuk anak dan orang tuanya untuk bertindak berdasarkan informasi yang diberikan.
Dalam memberikan rekomendasi, petunjuk berikut disarankan untuk dilakukan:
1.Pertama, pujilah poin-poin yang baik dalam pola diet anak.
2.Paparkan bahayanya konsumsi snek diantara waktu makan dan beri komentar tentang makanan kariogenik yang dikonsumsi diantara waktu makan.
3.Anjurkan mengganti makanan kariogenik dengan non kariogenik
4.Informasikan konsumsi makanan yang bergizi tinggi untuk mengurangi keinginan untuk ngemil
5.Doronglah anak untuk menyikat gigi setelah makan
6.Paparkan bahwa makanan yang mengontrol karies gigi juga mengontrol berat badan
Senin, 09 November 2009
Sehat dan Sakit : Perspektif Barat dan Timur
Tubuh yang sehat sampai tua merupakan dambaan setiap orang. Menurut WHO (1957) sehat adalah suatu keadaan dimana kualitas organ tubuh berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimilikinya. Keadaan diluar sehat disebut sakit. Sakit merupakan keadaan sebagai akibat dari yang dinamakan penyebab sakit. Kemudian dikenal istilah penyakit yang merupakan nama dari keadaan yang diderita oleh seseorang. Untuk mencapai tubuh yang sehat maka perlu dihindari atau dicegah segala sesuatu yang dapat menyebabkan sakit.
Di dunia ini, ilmu pengobatan atau medis terbagi dalam dua golongan besar, yaitu pengobatan barat dan pengobatan timur. Pengobatan barat merupakan ilmu kedokteran modern yang menggunakan peralatan canggih, obat kimia, atau pembedahan dalam melakukan terapinya. Sedangkan pengobatan timur lebih dikenal sebagai pengobatan tradisional atau alternatif karena terdapat berbagai macam jenisnya (tusuk jarum, pijat, herbal, dan lain-lain).
Suatu hal yang menarik mengenai dua kubu ilmu pengobatan ini adalah sulit untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan yang sama, yaitu kesehatan. Kedua ilmu pengobatan ini sama-sama tidak sempurna. Pengobatan barat melihat keadaan manusia secara mikroskopis (sel, bakteri, virus, sistem imun, peradangan, serta reaksi-reaksi tubuh yang kasat mata) sebaliknya pengobatan timur melihat secara makroskopis (warna wajah, bau tubuh dan zat buangan, warna lidah, postur tubuh, keadaan rambut, dan lain-lain). Akan sangat baik apabila suatu keadaan manusia dilihat dari kedua sisi. Keadaan sehat pun akan lebih mudah dicapai. Untuk itu perlulah kita mengenal cara pandang dari masing-masing ilmu.
Dalam dunia kedokteran modern pada suatu penyakit dikenal tiga komponen yang mempengaruhi muncul atau tidaknya penyakit, yaitu host (faktor yang ada dalam diri manusia), agent (bibit penyakit), dan environment (lingkungan sekitar).
Dalam ilmu kedokteran tradisional Cina, dikenal tiga jenis penyebab terjadinya penyakit, yaitu penyebab penyakit luar, penyebab penyakit dalam, dan penyebab penyakit golongan ketiga. Penyebab penyakit luar berasal dari alam atau lingkungan sekitar seperti angin, lembab, panas, dingin, kering, dan api. Penyebab penyakit dalam berkaitan dengan emosi manusia. Dalam kedokteran timur dikenal tujuh jenis emosi penyebab penyakit, yaitu marah, senang/gembira, sedih, kuatir, berpikir, takut, dan terkejut. Sebenarnya masih ada emosi penyebab penyakit yang lain, tetapi rasa mendongkol, dengki, cemburu, dendam dan emosi lain yang bersifat negatif dikelompokkan dalam kategori emosi marah. Rasa rindu, cinta, melamun, simpati, dan sejenisnya termasuk dalam kategori emosi berpikir. Kemudian dikenal juga penyebab penyakit golongan tiga, yaitu kerja atau istirahat yang berlebihan, pola makan yang tidak baik, trauma (kecelakaan, tertembak, terpukul, jatuh, dan lain-lain), gigitan serangga, cacingan, keracunan, keturunan, salah perawatan, seks yang berlebihan, dan hal lain yang berhubungan dengan pola hidup.
Di dunia ini, ilmu pengobatan atau medis terbagi dalam dua golongan besar, yaitu pengobatan barat dan pengobatan timur. Pengobatan barat merupakan ilmu kedokteran modern yang menggunakan peralatan canggih, obat kimia, atau pembedahan dalam melakukan terapinya. Sedangkan pengobatan timur lebih dikenal sebagai pengobatan tradisional atau alternatif karena terdapat berbagai macam jenisnya (tusuk jarum, pijat, herbal, dan lain-lain).
Suatu hal yang menarik mengenai dua kubu ilmu pengobatan ini adalah sulit untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan yang sama, yaitu kesehatan. Kedua ilmu pengobatan ini sama-sama tidak sempurna. Pengobatan barat melihat keadaan manusia secara mikroskopis (sel, bakteri, virus, sistem imun, peradangan, serta reaksi-reaksi tubuh yang kasat mata) sebaliknya pengobatan timur melihat secara makroskopis (warna wajah, bau tubuh dan zat buangan, warna lidah, postur tubuh, keadaan rambut, dan lain-lain). Akan sangat baik apabila suatu keadaan manusia dilihat dari kedua sisi. Keadaan sehat pun akan lebih mudah dicapai. Untuk itu perlulah kita mengenal cara pandang dari masing-masing ilmu.
Dalam dunia kedokteran modern pada suatu penyakit dikenal tiga komponen yang mempengaruhi muncul atau tidaknya penyakit, yaitu host (faktor yang ada dalam diri manusia), agent (bibit penyakit), dan environment (lingkungan sekitar).
Dalam ilmu kedokteran tradisional Cina, dikenal tiga jenis penyebab terjadinya penyakit, yaitu penyebab penyakit luar, penyebab penyakit dalam, dan penyebab penyakit golongan ketiga. Penyebab penyakit luar berasal dari alam atau lingkungan sekitar seperti angin, lembab, panas, dingin, kering, dan api. Penyebab penyakit dalam berkaitan dengan emosi manusia. Dalam kedokteran timur dikenal tujuh jenis emosi penyebab penyakit, yaitu marah, senang/gembira, sedih, kuatir, berpikir, takut, dan terkejut. Sebenarnya masih ada emosi penyebab penyakit yang lain, tetapi rasa mendongkol, dengki, cemburu, dendam dan emosi lain yang bersifat negatif dikelompokkan dalam kategori emosi marah. Rasa rindu, cinta, melamun, simpati, dan sejenisnya termasuk dalam kategori emosi berpikir. Kemudian dikenal juga penyebab penyakit golongan tiga, yaitu kerja atau istirahat yang berlebihan, pola makan yang tidak baik, trauma (kecelakaan, tertembak, terpukul, jatuh, dan lain-lain), gigitan serangga, cacingan, keracunan, keturunan, salah perawatan, seks yang berlebihan, dan hal lain yang berhubungan dengan pola hidup.
Karies Gigi: Penyebab dan Pencegahan
Karies Gigi
Adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan mahkota dan akar gigi yang dapat dicegah.
Etiologi Karies Gigi
Karies gigi (Dental caries) adalah penyakit multifaktorial yang meliputi:
1. Host : Gigi & saliva
2. Agent : Bakteria kariogenik
3. Environment : Substrat (Sukrosa)
4. Waktu
Faktor Risiko
1.Permukaan gigi yang retentif bagi plak dan bakteri
2.Adanya bakteri asidogenik
3.Diet yang mengandung karbohidrat
4.Tidak adekuatnya aliran saliva dan kapasitas buffer saliva
5.Rendahnya paparan terhadap fluoride baik topikal atau sistemik
Gigi & Saliva
Anatomi gigi berpengaruh pada pembentukan karies. Pit atau fisur yang dalam pada gigi dapat menjadi lokasi perkembangan karies. Karies juga sering terjadi pada tempat retensi sisa makanan.
Morfologi Gigi
Plak yang mengandung bakteri marupakan awal bagi terbentuknya karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak paling mudah terbentuk karies. Kawasan-kawasan tersebut yaitu:
a.Pit dan fisur pada permukaan oklusal molar dan premolar; pit bukal molar dan pit palatal insisif.
b.Permukaan halus di daerah proksimal sedikit di bawah titik kontak
c.Email pada tepian di daerah leher gigi sedikit di atas tepi gingiva
d.Pemukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien dengan resesi gingiva karena penyakit periodontium
e.Tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper
f.Permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan gigi tiruan jembatan
Peran saliva dalam proses karies gigi
1.aliran saliva yang adekuat mengurangi akumulasi plak pada permukaan gigi
2.berdifusinya komponen saliva (kalsium, fosfat, hidroksil, dan ion fluoride) pada plak dapat mengurangi daya larut email dan meningkatkan remineralisasi dari lesi dini karies gigi
3.Kapasitas bufer bikarbonat pada saliva dapat mereduksi atau membatasi turunnya pH ketika bakteri memetabolisir gula
4.Protein saliva membentuk pelikel yang menghambat lepasnya ion dari enamel
5.komponen saliva (IgA, lisosom, laktoperoksidase, dan laktorerin) memiliki efek antibakterial
Bakteri
Telah diketahui bahwa mikroorganisme penyebab karies gigi adalah bakteri Streptococcus mutans. Streptococcus mutans mempunyai kemampuan untuk melekat dan berkolonisasi pada jaringan mulut (Brady, 1992), hal ini karena Streptococcus mutans mempunyai berbagai polimer permukaan sel sebagai bahan antigen yang dikenal sebagai antigen B, 1/I1, IF, Pac, SR, P1 (Matshusita, 1994). Antigen tersebut berperan sebagai adhesin yang memiliki reseptor pada salah satu komponen saliva yang dikenal sebagai reseptor adhesin sehingga terjadi interaksi antara bakteri dengan saliva yang dapat membentuk lapisan biofilm di permukaan gigi atau bahan restorasi sehingga menghantar terjadinya proses kolonisasi.
Bakteri Streptococcus mutans dapat berikatan dan beragregasi dengan berbagai molekul saliva seperti: sIgA, B2, mikroglobulin, histidin rich polipeptides, glikoprotein 60 kD dan glikoprotein dengan berat molekul tinggi. Khusus untuk antigen Pac diketahui dapat berikatan dengan protein saliva dengan berat molekul 28000 kD, lisozim dan a amilase. Protein saliva yang berikatan dengan molekul Pac tersebut dikenal dengan agglutinin saliva sebagai media perlekatan (adherensi) bakteri Streptococcus mutans (Nakai dkk, 1993).
Karbohidrat yang dapat difermentasikan
Untuk dapat memicu terjadinya karies gigi, bahan makanan (Karbohidrat) harus kontak dengan permukaan gigi dalam waktu cukup lama. Karbohidrat ini apabila terdapat dalam jumlah cukup besar, sering dikonsumsi, terutama jenis yang lengket atau melekat pada gigi , maka kemungkinan terjadinya karies juga cukup tinggi.
Ada beberapa jenis karbohidrat yang dijumpai, yaitu : tepung polisakarida, sukrosa dan glukosa, dimana sukrosa paling mudah menyebabkan terjadinya karies atau lubang gigi.
Karbohidrat ini dapat dijumpai pada hampir semua makanan, sedangkan makanan atau pada jajanan yang disukai pada anak-anak banyak dijumpai pada : permen, coklat, kue-kue dan gula. Sedangkan karbohidrat dalam buah-buahan tidak menimbulkan karies, karena jumlahnya tidak banyak.
Bakteri pada mulut seseorang akan mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis yang disebut fermentasi. Bila asam ini mengenai gigi dapat menyebabkan demineralisasi. Proses sebaliknya, remineralisasi dapat terjadi bila pH telah dinetralkan. Mineral yang diperlukan gigi tersedia pada air liur dan pasta gigi berflorida dan cairan pencuci mulut. Karies lanjut dapat ditahan pada tingkat ini. Bila demineralisasi terus berlanjut, maka akan terjadi proses karies.
Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstrasel. Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email, yaitu < 5,5. Plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi email.
Sintesis polisakarida ekstrasel dari sukrosa lebih cepat ketimbang glukosa, fruktosa dan laktosa. Oleh karena itu, sukrosa merupakan gula yang paling kariogenik, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Dan karena sukrosa merupakan gula yan paling banyak dikonsumsi maka sukrosa merupakan penyebab karies utama.
Waktu
Tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat mempengaruhi perkembangan karies. Setelah seseorang mengonsumsi makanan mengandung gula, maka bakteri pada mulut dapat memetabolisme gula menjadi asam dan menurunkan pH. pH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi dapat terjadi setelah 2 jam.
PLAK
Mulut merupakan tempat berkembanganya banyak bakteri, namun hanya sedikit bakteri penyebab karies, yaitu Streptococcus mutans dan Lactobacilli di antaranya. Khusus untuk karies akar, bakteri yang sering ditemukan adalah Lactobacillus acidophilus, Actinomyces viscosus, Nocardia spp., dan Streptococcus mutans. Contoh bakteri dapat diambil pada plak.
Plak gigi merupakan endapan yang berisi bakteri beserta produk-produknya, yang terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak terjadi secara kebetulan melainkan tebentuk melalui serangkaian tahapan. Jika email yang besih dilapisi oleh lapisan organik yang amorf yang disebut pelikel. Pelikel ini terdiri atas glikoprotein yang diendapkan dari saliva dan tebentuk segera setelah penyikatan gigi. Sifatnya sangat lengket dan mampu membantu melekatkan bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi. Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel terutama yang terbentuk kokus. Yang paling banyak adalah streptokokus. Organisme tersebut tumbuh, berkembang biak dan mengeluarkan gel ekstra sel yang lengket dan akan menjerat berbagai bentuk bakteri yang lain.
Adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan mahkota dan akar gigi yang dapat dicegah.
Etiologi Karies Gigi
Karies gigi (Dental caries) adalah penyakit multifaktorial yang meliputi:
1. Host : Gigi & saliva
2. Agent : Bakteria kariogenik
3. Environment : Substrat (Sukrosa)
4. Waktu
Faktor Risiko
1.Permukaan gigi yang retentif bagi plak dan bakteri
2.Adanya bakteri asidogenik
3.Diet yang mengandung karbohidrat
4.Tidak adekuatnya aliran saliva dan kapasitas buffer saliva
5.Rendahnya paparan terhadap fluoride baik topikal atau sistemik
Gigi & Saliva
Anatomi gigi berpengaruh pada pembentukan karies. Pit atau fisur yang dalam pada gigi dapat menjadi lokasi perkembangan karies. Karies juga sering terjadi pada tempat retensi sisa makanan.
Morfologi Gigi
Plak yang mengandung bakteri marupakan awal bagi terbentuknya karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak paling mudah terbentuk karies. Kawasan-kawasan tersebut yaitu:
a.Pit dan fisur pada permukaan oklusal molar dan premolar; pit bukal molar dan pit palatal insisif.
b.Permukaan halus di daerah proksimal sedikit di bawah titik kontak
c.Email pada tepian di daerah leher gigi sedikit di atas tepi gingiva
d.Pemukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien dengan resesi gingiva karena penyakit periodontium
e.Tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper
f.Permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan gigi tiruan jembatan
Peran saliva dalam proses karies gigi
1.aliran saliva yang adekuat mengurangi akumulasi plak pada permukaan gigi
2.berdifusinya komponen saliva (kalsium, fosfat, hidroksil, dan ion fluoride) pada plak dapat mengurangi daya larut email dan meningkatkan remineralisasi dari lesi dini karies gigi
3.Kapasitas bufer bikarbonat pada saliva dapat mereduksi atau membatasi turunnya pH ketika bakteri memetabolisir gula
4.Protein saliva membentuk pelikel yang menghambat lepasnya ion dari enamel
5.komponen saliva (IgA, lisosom, laktoperoksidase, dan laktorerin) memiliki efek antibakterial
Bakteri
Telah diketahui bahwa mikroorganisme penyebab karies gigi adalah bakteri Streptococcus mutans. Streptococcus mutans mempunyai kemampuan untuk melekat dan berkolonisasi pada jaringan mulut (Brady, 1992), hal ini karena Streptococcus mutans mempunyai berbagai polimer permukaan sel sebagai bahan antigen yang dikenal sebagai antigen B, 1/I1, IF, Pac, SR, P1 (Matshusita, 1994). Antigen tersebut berperan sebagai adhesin yang memiliki reseptor pada salah satu komponen saliva yang dikenal sebagai reseptor adhesin sehingga terjadi interaksi antara bakteri dengan saliva yang dapat membentuk lapisan biofilm di permukaan gigi atau bahan restorasi sehingga menghantar terjadinya proses kolonisasi.
Bakteri Streptococcus mutans dapat berikatan dan beragregasi dengan berbagai molekul saliva seperti: sIgA, B2, mikroglobulin, histidin rich polipeptides, glikoprotein 60 kD dan glikoprotein dengan berat molekul tinggi. Khusus untuk antigen Pac diketahui dapat berikatan dengan protein saliva dengan berat molekul 28000 kD, lisozim dan a amilase. Protein saliva yang berikatan dengan molekul Pac tersebut dikenal dengan agglutinin saliva sebagai media perlekatan (adherensi) bakteri Streptococcus mutans (Nakai dkk, 1993).
Karbohidrat yang dapat difermentasikan
Untuk dapat memicu terjadinya karies gigi, bahan makanan (Karbohidrat) harus kontak dengan permukaan gigi dalam waktu cukup lama. Karbohidrat ini apabila terdapat dalam jumlah cukup besar, sering dikonsumsi, terutama jenis yang lengket atau melekat pada gigi , maka kemungkinan terjadinya karies juga cukup tinggi.
Ada beberapa jenis karbohidrat yang dijumpai, yaitu : tepung polisakarida, sukrosa dan glukosa, dimana sukrosa paling mudah menyebabkan terjadinya karies atau lubang gigi.
Karbohidrat ini dapat dijumpai pada hampir semua makanan, sedangkan makanan atau pada jajanan yang disukai pada anak-anak banyak dijumpai pada : permen, coklat, kue-kue dan gula. Sedangkan karbohidrat dalam buah-buahan tidak menimbulkan karies, karena jumlahnya tidak banyak.
Bakteri pada mulut seseorang akan mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis yang disebut fermentasi. Bila asam ini mengenai gigi dapat menyebabkan demineralisasi. Proses sebaliknya, remineralisasi dapat terjadi bila pH telah dinetralkan. Mineral yang diperlukan gigi tersedia pada air liur dan pasta gigi berflorida dan cairan pencuci mulut. Karies lanjut dapat ditahan pada tingkat ini. Bila demineralisasi terus berlanjut, maka akan terjadi proses karies.
Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstrasel. Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email, yaitu < 5,5. Plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi email.
Sintesis polisakarida ekstrasel dari sukrosa lebih cepat ketimbang glukosa, fruktosa dan laktosa. Oleh karena itu, sukrosa merupakan gula yang paling kariogenik, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Dan karena sukrosa merupakan gula yan paling banyak dikonsumsi maka sukrosa merupakan penyebab karies utama.
Waktu
Tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat mempengaruhi perkembangan karies. Setelah seseorang mengonsumsi makanan mengandung gula, maka bakteri pada mulut dapat memetabolisme gula menjadi asam dan menurunkan pH. pH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi dapat terjadi setelah 2 jam.
PLAK
Mulut merupakan tempat berkembanganya banyak bakteri, namun hanya sedikit bakteri penyebab karies, yaitu Streptococcus mutans dan Lactobacilli di antaranya. Khusus untuk karies akar, bakteri yang sering ditemukan adalah Lactobacillus acidophilus, Actinomyces viscosus, Nocardia spp., dan Streptococcus mutans. Contoh bakteri dapat diambil pada plak.
Plak gigi merupakan endapan yang berisi bakteri beserta produk-produknya, yang terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak terjadi secara kebetulan melainkan tebentuk melalui serangkaian tahapan. Jika email yang besih dilapisi oleh lapisan organik yang amorf yang disebut pelikel. Pelikel ini terdiri atas glikoprotein yang diendapkan dari saliva dan tebentuk segera setelah penyikatan gigi. Sifatnya sangat lengket dan mampu membantu melekatkan bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi. Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel terutama yang terbentuk kokus. Yang paling banyak adalah streptokokus. Organisme tersebut tumbuh, berkembang biak dan mengeluarkan gel ekstra sel yang lengket dan akan menjerat berbagai bentuk bakteri yang lain.
Langganan:
Komentar (Atom)